Saya adalah edijarot putra asli Kumpulan,Kecamatan Bonjol Pasaman yang lahir 10 Mei 1964. Menjadi wartawan sejak bulan Maret 1985 di SKH Haluan yang kala itu masih dibawah pimpinan H.Kasoema. Dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis, saya lebih banyak menggeluti bidang kriminalitas yang berposko di Polda Sumbar dan Polresta Padang. Saat mulai bertugas di lingkungan Polda, Kapolda Sumbar ketika itu dijabat oleh Siman Supardi, sedangkan Kapolresta Padang dipimpin Muchlis Muchtar.Zaman saya dulu koran harian hanya tiga saja yang terbit di Padang yakni, Haluan, Singgalang dan Semangat. Koran Mingguan hanya satu yakni Canang. Berbagai duka dan suka telah saya lewati tatkala jadi pemburu berita.Baik siang maupun malam.Suatu kebanggaan bagi saya bila berita yang dibuat headline, sehingga lepas penat-penat. Yang paling berkesan bagi saya ykni tentang pengungkapan kasus pembunuhan Rokmini di Ladang Padi dengan pelaku oknum TNI. Saya mengikuti beritanya mulai dari saat penemuan jasadnya hingga tersangka divonis di Mahmil. Selain itu yang tak bisa saya lupakan dengan berita yang saya tulis di Haluan tentang kasus adanya orang tewas dalam sel di Polsek Pauh. Setelah saya wawancara dengan pihak keluarga korban dan beritanya jadi berita kaki, maka warga yang bersimpatik dengan keluarga korban melakukan penyerangan terhadap Polsek Pauh. Sungguh luar biasa pengaruh berita yang saya buat. Pihak keluarga tak yakin korban bunuh diri dalam sel, sebagaimana yang diungkapkan kepada saya. Lama juga terjadi kesalahpahaman antara polisi dan warga Pauh. Namun setelah walikota Padang kala itu Syahrul Ujud menemui pemuka masyarakat Pauh sambil bicara dengan wajah sabak, warga pun meninggalkan Mapolsek Pauh. Saya tak mengira berita yang saya apungkan bisa memicu terjadinya keributan. Satu lagi berita yang saya buat bikin Kapolres kesal dan melarang saya datang ke kantornya yaitu tentang berita biaya SIM yang tak menentu. Letkol Jumain Arif kala itu memerintahkan kepada Wakanya Mayor Dinar untuk melarang saya cari berita ke Polresta. Bahkan seluruh Kapolsek dan perwira di lingkungan Polresta Padang dianjurkan agar tidak menerima saya dalam mencari berita. Namun dengan kegigihan dan tekad saya yang tinggi, akhirnya Jumain Arif dapat memakluminya. Saya kembali mulai cari berita di Polresta Padang, tetapi tidak sehangat hari-hari sebelumnya. Waka Polres Dinar yang kini telah jenderal bintang satu ikut kurang ceria bila saya tiba di Polresta Padang. Dalam membuat berita saya tak pandang bulu, halus, kasar, hitam, merah dan hijau saya daram. Sampai-sampai rekan saya dari Singgalang naik darah kepada saya sambil menghunuskan pisaunya tatkala saya buat ada hotel di Padang yang menyediakan praktek panti pijit.Kalau saya tak cepat kabur, mungkin usus ini sudah terbusai kena pisau. Rupanya rekan saya itu kenal baik denganr pemilik hotel yang saya beritakan negatif tersebut. Selama menjadi wartawan, telah banyk negeri orng yang didatangi. Mentawai jangan ditanya. Tiap ada kunjungan Kapolda ke Mentawai saya selalu dibawa. Bahkan latihan perang-perangan anggota Brimob di Mentawai saya juga ikut menenteng M 16. Kala itu dansat brimob Beno Kilapong. Hanya Papua dan Timtim saja yang belum saya datangi. Terakhir sebelum hengkang dari Haluan, saya masih sempat jalan-jalan ke Malaysia atas undangan presiden homestay malaysia, H.Syahirman. Kini saya menyibukkan diri menulis di website ini. Sebagai penulis rasanya hidup saya hambar bila tidak menyajikan berita buat pembaca....




