Walau pun Kota Padang "porak-poranda" dihantam gempa berkekuatan 7,6 SR, namun yang namanya maling tidak pernah sadar. Disaat warga sedang berada di pengungsian, pelaku pidana itu mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Secara diam-diam mereka memasuki rumah warga. Sudah jelas tujuannya untuk menjarah. Hal tersebut terjadi di daerah Kuranji, Siteba, Tabing dan kawasan Koto Tangah, sebagaimana yang saya dengar melalui siaran RRI Padang. Berdasarkan adanya laporan maling gentayangan malam hari disaat listrik "pudur" ini, sekiranya pihak berwajib sejajaran Poltabes Padang sudah seharusnya melakukan patroli di malam-malam hari ke daerah rawan kemalingan tersebut. Bukankah polisi bertugas melindungi dan mengayomi masyarakat ? terlebih saat kondisi yang kurang kondusif pasca gempa yang terjadi 30 September 2009 tersebut. Warga telah kena musibah gempa, jangan lagi ditambah penderitaan mereka dengan adanya kasus penjarahan. Apabila petugas polisi rajin patroli ke daerah rawan kriminalitas, agaknya bisa membatalkan niat maling untuk beraksi. Yang jelas maling beraksi apabila ada niat dan kesempatan. Maling tak berhasil apabila niat saja, namun tak ada kesempatan. Makanya sekali lagi saya imbau supaya petugas polisi di daerah ini jangan bosan-bosan melaksanakan patroli, terutama di malam hari. Kita tak berharap nantinya maling berhasil ditangkap massa lalu dihajar ramai-ramai hingga tewas. Kalau seandainya hal ini yang terjadi, kemana mau diletakkan muka polisi sebagai pelindung masyarakat. Kepada pelaku maling yang selama ini lepas dari jeratan hukum saya menghimbau agar berhentilah melakukan aksi kejahatan tersebut. Negeri kita sedang diberi cobaan oleh allah swt. Ingatlah hidup akan mati dan semuanya akan dipertanggungjawabkan di depan sang pencipta. Mulai sekarang berhentilah jadi orang jahat sambil bertobat. Mudah-mudahan cobaan yang lebih dahsyat lagi dari allah tidak terjadi di bumi ini. Semoga saudara-saudara yang selama ini hidup dari maling dapat maklum dan bertekad untuk kembali ke jalan yang benar. Sekian dari saya, edi jarot...




0 komentar:
Poskan Komentar